Pelatihan Hypnoteaching terselenggara pada hari Sabtu, 8 November 2025, bertempat di Ruang Meeting diikuti oleh seluruh guru dan pegawai MTsN 6 Jombang. Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC, Ibu Lilis Kholisah, S.Pd., yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin oleh Ibu Indah Haris Setiowati, S.Pd. Suasana kegiatan berlangsung khidmat dan penuh antusiasme dari seluruh peserta.
Kepala Madrasah, Bapak Drs. H. Ahmadi, M.Sy., memberikan sambutan hangat dengan menyampaikan rasa terima kasih atas kesediaan narasumber hadir di MTsN 6 Jombang. Beliau menegaskan harapan bahwa kegiatan hypnoteaching ini dapat memberikan dampak positif serta menjadi bekal penting bagi guru dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pembelajaran di madrasah.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Bapak M. Sholahudin, M.Pd.I., sebelum memasuki sesi inti yang dinantikan: penyampaian materi oleh Ibu Dr. Siti Munawaroh, S.Psi., M.Pd., narasumber dari Probolinggo, dengan moderator Ibu Umi Samsul Hidayati, S.Ag. Sesi ini berlangsung interaktif melalui paparan materi, praktik langsung, serta dialog terbuka antara peserta dan narasumber.
Pada sesi praktik, narasumber berulang-ulang menyampaikan bahwa untuk praktik ini harus dengan niat yang tulus, bukan untuk ‘sok-sokan’, dan dengan telaten mengarahkan bapak ibu guru untuk mendapatkan suasanya batin yang rileks.
Dalam sesi tanya jawab, penanya pertama, Bapak Iwan Zumadi, mengajukan pertanyaan mengenai apakah kalimat negatif yang bermaksud “ngelulu” dalam bahasa Jawa termasuk kategori hipnotis. Narasumber menjelaskan bahwa hal tersebut tergantung konteksnya, dan secara sepintas “iya, termasuk hipnotis”, namun dalam pandangan lebih luas tetap membutuhkan analisis unsur lain seperti intonasi suara, konteks perintah, serta kondisi klien.
Penanya kedua, Ibu Siti Fatimah, menyampaikan pertanyaan mengenai anak yang telah beberapa kali diproses di BK namun belum menunjukkan perubahan. Narasumber menjelaskan bahwa kemungkinan besar belum terbentuk koneksi dalam diri anak, sehingga responsnya tidak muncul. Lebih lanjut disampaikan bahwa seseorang akan “manut” bila ada kepercayaan, kenyamanan, dan tidak ada mental blocking. Apabila mental blocking masih ada, maka hal tersebut perlu diluruskan terlebih dahulu. Narasumber menegaskan pentingnya ketulusan, karena perubahan akan lebih mudah muncul dari figur yang disukai dan dipercaya oleh anak.
Sebagai penutup, narasumber memberikan pernyataan akhir yang kuat dan menginspirasi: “Praktikkan, praktikkan, praktikkan. Amalkan, amalkan, amalkan.” Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pendekatan guru kepada peserta didik di MTsN 6 Jombang.[ush]


