Hypnoteaching dengan Tema Relaksasi di Mushalla Al Mansur MTsN 6 Jombang

MTsN 6 Jombang kembali mengadakan kegiatan hypnoteaching sebagai upaya membangun suasana pembelajaran yang nyaman, positif, dan ramah anak. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 11 Desember 2025, bertempat di Mushalla Al Mansur setelah pelaksanaan shalat dhuha berjamaah. Sesi kali ini mengangkat tema “Relaksasi”, yang diikuti oleh seluruh siswa dan Bapak/Ibu guru dengan penuh antusias. Pelaksanaan Hypnoteaching dipandu oleh Ibu Miftachurrizqi Yanti, S.Kom.

Pembukaan: Mengelola Emosi dan Bersyukur

Kegiatan diawali dengan ajakan kepada siswa untuk mengelola kesedihan dan emosi. Para siswa diminta menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan melalui mulut. Mereka diajak merenungkan betapa berharganya nikmat bisa bernafas hingga hari ini, sebagai bentuk rasa syukur yang diwujudkan melalui semangat menjalani aktivitas sehari-hari.

Ibu Miftachurrizqi Yanti, S.Kom. menyampaikan bahwa setiap orang pasti memiliki masalah. Namun, masalah tersebut muncul dari diri sendiri dan bisa diselesaikan. Tidak ada masalah tanpa solusi. Guru-guru MTsN 6 Jombang pun menegaskan komitmen mereka untuk membantu siswa dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Mengubah Pola Pikir: Dari “Mengapa” Menjadi “Bagaimana”

Salah satu inti dari sesi hypnoteaching adalah mengajak siswa mengubah pola pikir negatif. Seringkali seseorang terjebak pada pertanyaan “mengapa” yang justru membuat fokus pada masalah. Oleh karena itu, siswa dilatih untuk mengganti pertanyaan tersebut menjadi “bagaimana”, misalnya: “Bagaimana caranya saya memahami pelajaran?” atau “Bagaimana saya bisa menjadi lebih baik?”

Siswa diminta mendengarkan instruksi Ibu Miftachurrizqi Yanti, S.Kom. dengan penuh perhatian, karena yang terpenting bukan hasil instan, tetapi proses yang dilakukan secara berulang-ulang. Dorongan paling kuat berasal dari dalam diri—usaha, tekad, dan kerja keras adalah kunci utama kesuksesan.

Latihan Fokus dan Melepaskan Energi Negatif

Siswa kemudian mengikuti latihan fokus melalui gerakan jari dan suara intonasi “tang tang srut tang srut…”. Latihan ini mengajarkan bahwa sering kali kesalahan terjadi karena seseorang tidak memperhatikan proses, melainkan hanya melihat hasil akhir.

Pemateri memberikan analogi sederhana: manusia tidak hidup untuk terus menengok ke belakang. Seperti spion pada sepeda motor, kita hanya perlu menoleh sedikit, bukan terus-menerus melihat ke belakang. Dengan demikian, siswa diajak untuk menanamkan sugesti positif dalam diri mereka.

Selanjutnya, siswa diminta duduk bersila dengan santai, membuka telapak tangan di atas lutut, lalu menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan untuk melepaskan seluruh beban pikiran dan energi negatif. Semua siswa diajak menyadari bahwa setiap manusia memiliki masalah, namun penyelesaiannya bergantung pada kemauan diri sendiri.

Menuliskan Beban Pikiran

Pada sesi berikutnya, siswa membuka buku mereka dan mendengarkan alunan musik tanpa suara. Mereka diarahkan untuk merenungkan hal-hal yang membuat mereka sulit belajar, kemudian mengganti kalimat “Mengapa sulit belajar?” menjadi “Bagaimana agar saya mudah belajar?”.

Setiap siswa menulis hal-hal negatif yang mengganggu pikiran, menghambat konsentrasi, serta unek-unek yang membebani hati. Kegiatan ini bertujuan agar mereka merasa lega dan lebih siap menerima pembelajaran. Guru-guru pun menegaskan bahwa mereka selalu mendoakan kesuksesan siswa setiap hari.

Setelah selesai, kertas tersebut disobek dan dikumpulkan kepada guru terdekat dengan rapi sebagai simbol pelepasan beban pikiran.

Tantangan Keberanian: Uji Konsentrasi

Pada sesi praktik, Ibu Miftachurrizqi Yanti, S.Kom. meminta salah satu siswa maju ke depan tanpa menunjuk temannya. Awalnya, seluruh siswa merasa malu, namun akhirnya M. Rafa Al Farizi kelas 8-E memberanikan diri maju.

M. Rafa Al Farizi diberi tantangan untuk membawa gelas Aqua berisi air tanpa menumpahkannya sedikit pun. Rafa menjalankan instruksi dengan baik. Melalui tantangan ini, siswa belajar bahwa dalam hidup, ketika menghadapi tugas atau masalah, yang perlu dilakukan adalah menjalaninya dengan tenang dan fokus. Jatuh bukan akhir dari segalanya—karena manusia selalu bisa bangkit kembali.

Penutupan: Menanamkan Sugesti Positif

Kegiatan ditutup dengan instruksi untuk fokus pada diri sendiri dan menjaga ketenangan. Energi fokus tidak datang dari orang lain, tetapi dari diri sendiri. Di akhir sesi, seluruh siswa mengikuti sugesti bersama-sama:

“Saya bisa menjadi anak baik.”

Kalimat tersebut diucapkan tiga kali sebagai sugesti positif untuk memperkuat keyakinan diri.

Kegiatan Hypnoteaching Relaksasi ini menjadi salah satu upaya MTsN 6 Jombang dalam membentuk karakter siswa yang lebih tangguh, optimis, dan siap menghadapi tantangan belajar. Dengan bimbingan guru dan kemauan kuat dari diri sendiri, diharapkan siswa mampu menjalani hari-hari mereka dengan lebih baik dan penuh semangat. (rdn)