Kunjungan Edukatif MTsN 6 Jombang ke Pendopo Kabupaten Jombang dalam Acara “Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua”

Sebanyak 100 siswa beserta 22 guru dan karyawan MTsN 6 Jombang mengikuti kegiatan kunjungan edukatif ke Pendopo Kabupaten Jombang dalam rangka acara bertajuk “Pendopo Milik Rakyat, Abah Untuk Semua.” Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat pemerintahan daerah, seni budaya, serta keberagaman tradisi yang ada di Kabupaten Jombang.

Rombongan tiba dan mengikuti praacara berupa check sound sebelum kegiatan resmi dimulai. Tepat pukul 08.15 WIB, acara dibuka dengan seremonial dan sambutan dari panitia. Suasana pendopo yang hangat dan penuh nuansa budaya semakin semarak dengan penampilan musik keroncong dari siswa SMAN 2 Jombang. Mereka membawakan tiga lagu, yakni Sinarengan milik Denny Caknan, lagu Cinta dari Vina Panduwinata, serta lagu Sewu Kuto karya Didi Kempot yang dibawakan secara duet bersama Pak Anom dari Dinas Kebudayaan Jombang.

Penampilan yang paling dinanti adalah aksi grup band dari MTsN 6 Jombang yang tampil penuh percaya diri membawakan lagu Zombie dari The Cranberries dan Duka dari Last Child. Tepuk tangan meriah dari penonton mengiringi penampilan siswa yang menunjukkan bakat seni dan keberanian tampil di panggung publik.

Selanjutnya, pertunjukan wayang potehi memukau hadirin dengan iringan lagu Ande-Ande Lumut dan Rek Ayo Rek. Acara dipandu oleh Mas Afrisal yang sedang meraih gelar doktor dari Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Ia tampil dengan kemeja kombinasi batik dan kain bernuansa merah serta topi cheongsam, simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang harmonis.

Dalam sesi pengenalan budaya, dijelaskan bahwa di pendopo selalu terdapat gamelan dan wayang sebagai simbol kehidupan masyarakat. Dalang diibaratkan sebagai sutradara yang mengatur jalannya cerita, sebagaimana seorang bupati yang harus mampu “momong” rakyat dengan berbagai karakter. Alat-alat gamelan seperti bonang, kenong, gong, kendang, kethuk, peking, saron, slenthem, dan gambang menjadi bagian penting dalam tradisi kesenian Jawa.

Disampaikan pula bahwa telah diresmikan beberapa kebudayaan tak benda Kabupaten Jombang, antara lain Sandur Manduro dari Desa Manduro, Kecamatan Kabuh; Wayang Jati Dhuwur dari Kesamben; Besutan sebagai cikal bakal ludruk; upacara adat Undhuh-Undhuh; Tari Remo Bolet; serta tradisi lisan berupa dongeng dan tembang macapat.

Kedatangan Bupati Jombang, Bapak Warsubi, S.H., M.Si. atau yang akrab disapa Abah Warsubi, bersama jajaran disambut dengan lagu Yalal Waton. Acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Islami Jambi dari MAN 1 Jombang serta talk show tentang wayang potehi yang telah berkembang sejak tahun 1920 di wilayah Gudo, dipandu oleh seniman Maesena, Bapak Toni Harsono.

Dalam sambutannya, Abah Warsubi menyampaikan bahwa pada tahun 2025 Kabupaten Jombang meraih 18 penghargaan. Ia juga mengungkapkan bahwa angka stunting dan kemiskinan mengalami penurunan, bahkan tidak ada lagi kemiskinan ekstrem. Sebanyak 6.100 tenaga kerja terserap, berkat upaya pemerintah daerah yang aktif menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan. Beliau berharap para siswa dapat mengenal sejarah dan budaya daerah serta terus berprestasi, karena Kabupaten Jombang adalah rumah bagi seluruh rakyat.

Acara dilanjutkan dengan penampilan Tari Bambang Cakil dari SDN Gempollegundi, kemudian pertunjukan wayang potehi yang mengisahkan asal-usul Tahun Baru Imlek. Cerita tersebut menggambarkan seorang dewa yang menyamar menjadi manusia untuk menolong desa yang mengalami gagal panen. Melalui saran mengenakan warna merah saat malam Imlek, hama yang merusak panen dapat diusir. Kisah ini disampaikan dengan iringan musik yang meriah dan penuh makna kebersamaan.

Setelah rangkaian acara, dilakukan sesi foto bersama Abah Bupati dan Wakil Bupati, Gus Salman, dilanjutkan penampilan penutup dari SMAN 2 Jombang yang membawakan lagu Jogja Istimewa, Laskar Pelangi, dan Mimpi yang Sempurna. Suasana kebersamaan semakin terasa saat seluruh pengisi acara, guru, dan siswa berfoto bersama.

Kegiatan diakhiri dengan tur keliling pendopo yang dipandu oleh Paguyuban Guk Yuk Kabupaten Jombang. Para siswa tampak antusias mengenal lebih dekat ruang-ruang bersejarah dan simbol pemerintahan daerah.

Kunjungan ini menjadi pengalaman edukatif yang sarat makna bagi siswa MTsN 6 Jombang. Selain menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara dunia pendidikan dan pemerintah daerah, sekaligus menanamkan nilai kebersamaan, keberagaman, serta semangat untuk terus berprestasi bagi generasi muda Jombang.