Aku terlahir dengan banyak rupa
Memikat semua makhluk di bumi
Bukan untuk tipu daya
Melainkan ,
Memberikan ketentraman untukmu yang sempat memandang
Kala itu
Entahlah,
Aku dan saudariku menumpang kepada Si Pohon Tua yang masih kokoh
Tetapi nasib tak baik kami temukan disini
Tak banyak yang sadar keberadaan kami
Tak banyak mata yang memandang
Tak banyak sorot kagum yang terpancar
Hanya lalu lalang
Kami tinggi
Oleh karenanya anak kecil tak dapat meraih
Dan tak banyak yang ingin
Kami sering mendengar
Celoteh dari mereka yang hidup
Bukan suara memuja
Gerutuan akan keluh kesah dunia
Yang membuat kami semakin lelah
Layu lalu mati
Hari ini
Kelopakku mulai mengering
Warna coklat ini satu persatu akan mengugurkan kelopak-kelopak indahku
Tanpa sempat dipandang
Sampai suatu ketika
Seorang perempuan duduk di hadapanku
Tatapan sendu pada mulanya
Semakin lama tatapan itu berubah penasaran
Ia berdiri memandangku
Ia mendekat lalu tersenyum
Senyuman yang memberi kehidupan
Kekuatan
Keberanian
Dan menenangkan
Serasa ia ingin merengkuhku
Perempuan itu lekas pergi
Ketika terdengar bunyi dentang yang memekak
Tapi ia selalu kembali
Dengan tatapan yang sama setiap hari
Meski kelopakku yang indah sudah rapuh sebagian
Saat kelopakku hanya satu yang terang
Saat kesadaranku mulai menghilang
Ia sempat mengeja namanya
Aku sempat menangkap nama itu
Gan…..ta….ri
Ya Gantari
Puisi ini kupersembahkan untuk Bunga Anggrek di madrasah yang selalu cantik
Oleh Isvara Hening Gantari
