Parenting “Melindungi Generasi, Mencegah Pelecehan: Membangun Karakter, Akhlak, dan Rasa Aman pada Anak”

Jombang, 26 September 2025 – MTsN 6 Jombang menyelenggarakan kegiatan parenting dengan mengusung tema “Melindungi Generasi, Mencegah Pelecehan: Membangun Karakter, Akhlak, dan Rasa Aman pada Anak.” Acara ini dihadiri oleh siswa, orang tua, serta para pendidik sebagai bentuk kepedulian madrasah sebagai penyelenggara pendidikan berbasis SRA dalam memberikan pemahaman mengenai pentingnya perlindungan anak sejak dini.

Kegiatan parenting ini dilatarbelakangi oleh semakin maraknya kasus pelecehan yang terjadi di kalangan remaja. Melalui acara ini, pihak madrasah berupaya memberikan edukasi kepada peserta didik agar mampu memahami cara melindungi diri, sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia yang akan menjadi benteng utama dalam kehidupan mereka.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi orang tua dan guru untuk memperkuat peran serta tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan. Dengan adanya sinergi antara keluarga dan madrasah, diharapkan para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, berakhlak, serta memiliki rasa aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sebelum memasuki materi, Ibu Dr. Hj. Siti Munawaroh, S.Psi, M.Pd. mengondisikan suasana dengan memutar instrumen musik yang menenangkan. Selanjutnya beliau mengajak peserta untuk melakukan aktivitas sederhana dengan mengangkat tangan dan menurunkannya tanpa suara. Aktivitas ini bertujuan melatih konsentrasi sekaligus menyiapkan anak-anak agar lebih fokus dalam menerima materi.

Dalam penyampaian materi, Ibu Dr. Hj. Siti Munawaroh, S.Psi, M.Pd menekankan pentingnya bersyukur atas kesehatan diri serta mengajarkan untuk selalu berpikir positif. Beliau menjelaskan bahwa menurut ilmu psikologi, otak manusia bekerja sesuai dengan prasangka yang ditanamkan. Oleh karena itu, membiasakan diri berpikir positif sangat penting bagi perkembangan mental anak.

Salah satu sesi menarik adalah latihan berhitung menggunakan jari. Namun, cara berhitung yang digunakan berbeda dari biasanya. Angka satu ditunjukkan dengan jari kelingking. Angka dua dengan jari tengah dan jari manis. Angka tiga dengan jari kelingking, jari manis, dan jari tengah. Angka empat dengan membuka jari kelingking, dan angka lima dengan membuka seluruh jari. Perhitungan ini dilakukan secara perlahan kemudian dipercepat, baik dengan tangan kanan, tangan kiri, maupun keduanya. Latihan ini bertujuan untuk menguji konsentrasi serta menunjukkan adanya gangguan syaraf pada orang yang tidak mampu mengikuti instruksi dengan baik.

Lebih lanjut, Dr. Hj. Siti Munawaroh, S.Psi., M.Pd. menjelaskan bahwa otak anak pada usia madrasah masih dalam tahap perkembangan dan belum sempurna. Kondisi ini menyebabkan remaja sering kali belum bijaksana dalam menyikapi era digital serta berbagai pengaruh yang menyertainya. Tidak jarang mereka terjerumus pada perilaku menyimpang seperti tawuran, bullying atau pelecehan (fisik, verbal, seksual, maupun digital), hingga penyalahgunaan miras dan narkoba.

Untuk mencegah hal tersebut, anak perlu dibekali dengan karakter yang baik. Karakter ini terbentuk dari dua faktor, yakni internal dan eksternal. Faktor internal meliputi genetik, kesehatan, serta kecerdasan, sementara faktor eksternal mencakup lingkungan serta pola asuh. Dalam hal ini, madrasah berperan sebagai pengajar, penunjang, asisten ahli, penyedia pengetahuan dan kecakapan, serta sebagai kawah candradimuka yang membentuk kepribadian siswa. Di sisi lain, orang tua berperan sebagai pendidik utama, penanggung jawab karakter, teladan, sekaligus pihak yang melakukan proses pemulihan (recovery) jika anak menghadapi masalah.

Sinergi antara madrasah dan orang tua sangat diperlukan agar pembentukan karakter anak berjalan maksimal. Berdasarkan penelitian, hampir 80% karakter yang ditunjukkan anak berasal dari rumah. Anak yang tumbuh dengan karakter baik biasanya memiliki resiliensi yang kuat. Resiliensi, menurut Riley dan Masten (2005), adalah pola adaptasi positif dalam menghadapi kesulitan. Anak dengan resiliensi yang baik mampu berpikir positif saat menghadapi tekanan, trauma, atau pengalaman hidup yang buruk, serta bangkit kembali bahkan menjadi lebih kuat setelahnya. Dengan resiliensi ini, anak tidak mudah dibully maupun dilecehkan.

Dalam rangka membangun karakter, akhlak, serta mencegah pelecehan, setiap pihak memiliki peran penting yang harus dijalankan secara seimbang. Orang tua, misalnya, memiliki peran ABCD. Pertama, Aktif, yakni siap secara fisik dan psikis dalam mendampingi anak di setiap tahap perkembangannya. Kedua, Belajar – Bekerjasama, yaitu senantiasa menjadi pembelajar, meskipun dari hal kecil, serta menjalin kolaborasi yang saling mendukung dengan anak maupun pihak sekolah. Ketiga, Cinta, artinya setiap pesan, teguran, maupun amarah hendaknya tetap disampaikan dengan kasih sayang. Keempat, Disiplin – Do’a, yakni mengajak anak untuk disiplin dengan penuh teladan, bukan hanya perintah, sembari mendoakan mereka agar senantiasa berada di jalan yang baik.

Sementara itu, peran pendidik tidak kalah penting. Guru harus mampu menjadi role model yang baik bagi peserta didik, bersikap proaktif dalam menangani masalah, bersikap kolaboratif dengan orang tua maupun pihak lain, serta selalu memberikan dukungan positif. Selain itu, guru juga dituntut untuk membantu siswa mengembangkan coping skill, yaitu kemampuan dalam mengelola emosi dan menghadapi tekanan hidup dengan cara yang sehat.

Adapun peran siswa atau diri sendiri juga menjadi faktor utama. Siswa perlu berusaha untuk membangun dan meningkatkan resiliensi, memahami berbagai bahaya yang mengancam, serta bersikap bijak dalam menggunakan gadget dan media sosial. Mereka juga harus mengetahui dan menjaga body autonomy serta memahami konsep zona pribadi sebagai bentuk perlindungan diri. Tidak kalah penting, doa dan ridho orang tua harus selalu dijaga, karena hal tersebut merupakan kunci keberkahan dalam setiap langkah kehidupan.

Acara parenting di MTsN 6 Jombang ditutup dengan sesi tanya jawab bersama wali peserta didik. Karena keterbatasan waktu, hanya dua penanya yang diberi kesempatan. Pertanyaan pertama terkait bentuk parenting yang sesuai dengan anak zaman sekarang yang cenderung membantah saat diberi nasihat. Menanggapi hal ini, Ibu Dr. Hj. Siti Munawaroh, S.Psi, M.Pd. mengutip pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, “Didiklah anak sesuai zamannya.” Menurut beliau, generasi Alfa memiliki daya tangkap cepat namun lemah dalam aspek sosial. Oleh karena itu, orang tua perlu menempatkan diri sesuai konteks zaman anak. Cara mendidik yang tepat adalah dengan memberi pengetahuan dan informasi secara komunikatif, bukan dengan membentak.

Pertanyaan kedua berkaitan dengan bagaimana cara agar anak tidak perlu ditakut-takuti untuk melakukan hal baik. Ibu Siti menjawab bahwa orang tua harus menjadi role model nyata bagi anak. Teladan lebih kuat daripada sekadar ucapan. Misalnya, ketika tiba waktu shalat, orang tua sebaiknya langsung mengajak anak shalat bersama, bukan hanya memerintah. Dengan cara itu, anak akan belajar melalui contoh nyata dan lebih mudah menanamkan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan parenting ini menjadi bukti nyata komitmen MTsN 6 Jombang dalam mendukung tumbuh kembang peserta didik secara menyeluruh. Tidak hanya berfokus pada aspek akademik, madrasah juga menekankan pentingnya pembentukan karakter, akhlak, dan ketahanan diri agar siswa mampu menghadapi tantangan zaman. Melalui program-program positif yang terus digagas, MTsN 6 Jombang berupaya mencetak generasi yang berprestasi sekaligus berakhlak mulia. Parenting kali ini menjadi salah satu langkah konkret dalam membekali siswa agar siap menghadapi berbagai tantangan sekaligus terhindar dari perilaku menyimpang. (rdn)