Tetesan Keringat Angara
Ainin Awalul Nikmah
Seorang lelaki bertubuh tegap, berwajah tegas, menandakan kewibawaannya masih ringan melanjukan kakinya di atas rerumputan hijau, di bawah sinar sang surya… Ahmad Angara Bagaskara. Mimpinya menjadi seorang siswa taruna Akademi Militer masih ia perjuangkan. Bukan. Dia bukan terlahir dari keluarga berada ia hanya seorang anak buruh tani.
Keberuntungan berpihak kepadanya satu tahun lalu karena ia berhasil mewakili Jombang untuk PaskibraKa nasional, sungguh itu pengalaman yang sangat berarti dalam hidupnya. Di didik langsung selama kurang lebih tiga bulan, bertemu dengan orang nomer satu di Indonesia, dan pengalaman lainnya. Padahal saat itu ia hanya iseng untuk mengiti seleksi dan ternyata ia terpilih sampai tingkat Nasional.
‘Hosh.. Hosh….’
Nafasnya bersahutan ia merasa lelah karena berlari cukup jauh, kemudian memutuskan untuk pulang dengan mengendarai sepedanya. Jarak antara lapangan dan rumahnya tidak begitu jauh membuat ia terkadang pulang berjalan kaki. Sesampainya di rumah ia langsung mandi dan menunaikan sholat ashar yang belum ia laksanakan. Malam harinya ia gunakan untuk belajar baik untuk ujian maupun psikotes. Sebulan lagi waktunya untuk mendaftar sebagai calon taruna akademi militer, huftt… Ia pasti bisa!
Rutinitas seharinya masih sama sampai waktu sebulan itu telah berlalu, kini ia sedang berada di sekolah untuk mengurusi beberapa berkas dan tidak sengaja ia bertemu dengan Bara.
“Ra! Lo jadi daftar taun ini?” Celetuk Bagas, salah satu sahabat Angara dari masa duduk di bangku SD. Berbeda dengan Angara, bara terlahir dari keluarga berada.
“Jadi gas do’ain gue ya! Lo jadi ke BIFA?” tanya balik Angara. Benar BIFA ialah tujuan Bara setelah ini Bali flight Internasional Academy.
“Jadi dong”
Untuk sore ini Angara kembali berlari mengelilingi lapangan dekat rumahnya sendirian, kali ini ia begitu semangat di banding hari-hari biasanya hingga-
-Brukk…
Badan Angara kini berasa sakit remuk bahkan kakinya seperti lemas tidak bisa digerakan, sayup-sayup ia bisa mendengar segerombolan orang yang meneriakinya. Kini pandangannya gelap lalu matanya terpejam tak sadarkan diri.
“Le, Angara! Bangun le hiks,” Angara bisa mendengarnya, itu suara ibunya.
Perlahan ia membuka matanya, menyesuaikan cahaya. Entahlah ia dimana..seingatnya ia berlari untuk pulang ke rumahnya dan– Ah! kepalnya berasa sakit untuk mengingat kejadian itu.
“Pak! Dita! Arga! Masmu.. Angara udah sadar…” Teriak Ningsing sang ibu, rasanya ia sangat bahagia sekarang melihat putra sulungnya sadar. Sudah seminggu Angara koma. Penyebabnya ialah Angara tertabrak mobil dikemudikan oleh seorang remaja yang sedang mabuk. Keluarga pengemudi itu juga sudah meminta maaf dan berjanji mengurus administrasi hingga Angara pulih. Semua orang yang berada di depan berlari masuk, terlihat juga perawat dan dokter untuk memeriksa ulang keadaan Angara.
“Sepertinya Angara mengalami cedera di kakinya, yang menyebabkan ia harus terapi berjalan.” Bom seperti itulah rasa hati Angara saat ini, bagaimana ia bisa mengikuti pendaftaran yang tinggal dua Minggu lagi? Bagaimana ia bisa tes kalau seperti ini? Bagaimana dengan planing hidupnya. Sunguh ia benar benar hancur!
Sudah tiga hari dokter mengizinkan Angara pulang, ia juga berubah menjadi seorang yang pendiam, tidak mau makan, tidak pernah latian, parahnya lagi dia tidak mengikuti terapi dari rumah sakit dan tidak mau menemui orang siapapun itu.
Tok… Tok… Tok…. Ketukan suara pintu itu terdengar, entah sudah berapa kali keluarganya, namun Angara masih sama.
“Pergi aja! gue itu lumpuh”teriak Angara.
“Ra… ini gue Bara!” sembari membuka pintu dan masuk ke kamar bara beralas kasur lantai itu.
“Gue tau Lo sedih Ra, tapi ini bukan Angara sahabat gue. Lo bisa Ra! berkas Lo udah gue kirim, sekarang Lo tinggal terapi aja apa susahnya sih Ra! Tes juga masih satu Minggu setelah berkas kan Ra! Lo bisa… Lo pasti bisa… Lo itu bukan lumpuh! Lo itu cuman cedera! Ayo lah.. dengerin gue, Angara itu bukan anak yang kayak gini gue balik dulu kalo Lo masih madep tembok! Assalamualaikum Ra, gue besok berangkat ke Bali.”
Tertampar, ia dia benar-benar tertampar dengan omongan Bara, benar, dia harus berusaha waktunya masih tinga Minggu untuk memperbaiki semuanya.
Tak menyia-nyiakan waktunya Tiga Minggu ini Angara menjalani tetapi dan Alhamdulillah dia sudah bisa berjalan lancar dan bahkan ia juga sudah bisa berlari seperti dulu. Kini saat-saat paling menegangkan dalam hidupnya pengumuman kelolosan pantukhir. Ia rela berdesakan dengan yang lain demi meligat apakah namanya sudah ada di papan pengumuman.
Dan…
Angara tak berhenti menangis dan sujud syukur kepada sang pencipta sungguh ia benar-benar berterimakasih. Mimpinya sejak kecil yang sudah ia usagakan berujung keberhasilan. Ahmad Angara Bagaskara dinyatakan lolos seleksi pantukhir pusat!
